instagram

Ruang ‘rasa’ bahagia

Keindahan itu semakin terlihat jelas, menyejukan kalbu, memacu, kerenyes, agak amis, lembut, hexagonal, memberantaki, diperbaharui, memaju, 22/7, kenyandaran, dan … Aaaaaah aku tidak bisa menjelaskan, apapun bentuk dan rasanya secara verbal. Namun entah apa yang sedang aku rasakan ini. Berawal dari…

“Apaan sih itu orang?!”

Harapku bukan kalimat seperti itu yang dia lontarkan untuk berdialog dengan intuisinya sendiri. Namun akupun tak berharap lebih dari hanya sekedar kau dan aku hanya orang asing yang belum pernah saling kenal, yang secara tiba-tiba kita dikenalkan oleh teman yang sama. Berlanjut saling bertukar nomor ponsel, saling menceritakan pribadi masing-masing, berbagi minat, bertukar pengalaman, sampai akhirnya sama-sama menaruh perhatian, hendaknya berakhir dengan sebuah kebahagiaan yang nyata dan sederhana.

1 | MANCING

“Halo :D”

 

“Hai :)”

 

“Lg ngapz dek?”

 

“Lgy nntn Sponge Bob Square Pants sambil sarapan bubur pagi-pagi nih :D”

 

“Wih enak engga? Aku pengen nntn pertandingan karambol sambil sarapan bubur, tapi bakal enak engga yah?”

Percakapan standar antara dua sejoli yang… ah sudah lah tak perlu disebutkan. Namun tiba-tiba.

“Aduh aku lupa …”

Terjadilah cekcok diantara mereka, yang disebabkan karena sebuah hal sepele, mereka berdua sama-sama lupa akan tanggal spesial yang mereka sepakati untuk diistimewakan. Tak ada peristiwa penting yang tertulis dalam sejarah mereka berdua, namun ada 52 peristiwa sejarah dalam peradaban manusia pada tanggal tersebut. Yaitu 17 September, agak absurd memang jika alasannya karena mereka senang mengeja kata “Boston”, ya sebuah kota di Negara Bagian Massachusetts, Amerika yang di temukan pada tanggal 17 September. Berhenti beberapa lama untuk saling mengirimkan pesan, lalu suara ponsel Prima berdering, dan tertulis kontak “Matahariku yang tak akan pernah berhanti menyinariku sampai aku mati” menelepon. Ya, memang Pebi yang lebih sering mengakhiri percekcokan sepele diantara mereka berdua.

“Mas Pri, udah ga usah dibahas lagi yah”

 

“Iya Dek Pe, maafin mas juga yah”

 

“Yaudah skrg kita mancing yuk?”

 

“Oke deh, satu jam lagi aku jemput ke kosan yah”

 

“Jangan lupa lagi yah Mas Pri, kemaren bilang mau jemput malah mancing sendirian”

 

“Maafin aku yah Dek Pe, aku kemaren ngebet banget pengen mancing jadi aja ga sempet mampir”

 

“Iya, yaudah cepetan yah mas Pri”

 

“Siap Nyonya”

Pebi menunggu Mas Pri di bawah pohon kersen yang terletak di depan rumahnya, terlihat Mas Pri dari jauh sekitar 100 meter meminggirkan kendaraannya, Pebi bingung bukan kepalang, sampai-sampai dia menghetikan gerakan belly dance yang ia peragakan dibawah pohon kersen itu. Lima belas menit berselang Mas Pri menyalakan mobilnya dan menghampiri Dek Peb, yang mukanya sudah merah kerana terlalu tebal blash on yang dia gunakan untuk latihan make up diantara waktu setelah latihan belly dance dan menunggu Mas Pri datang menghampirinya.

“Maaf Dek Pe, tadi aku berangkat jam 7 pagi, setelah pertandingan karambol beres. Nah sampai tadi di situ pukul 7.45, di telepon tadi kan bilangnya satu jam, makanya aku ingin tepat waktu, jadi aku nunggu dulu jam Tujuh kurang Empat puluh detik untuk biar tiba di depan rumahmu tepat jam Tujuh pas.”

 

“Terserah mu lah mas, yang penting passport dibawa kan?”

 

“Iya dong aku bawa”

 

“Yaudah kita langsung ke bandara sekarang, ngejar penerbangan jam satu siang nih.”

 

“Yaudah naikin semua barang ke atas mobil”

Tiba di Bandara tepat waktu sesuai rencana yang sudah disusun, akhirnya mereka berdua terbang menuju sebuah kota yang……..

Bersambung.