instagram

Pesan suara, makan malam, dan cita-cita

Hujan sore itu tak kunjung berhenti, begitu pula kecemasanku pada janji pertemuan dengan seseorang yang baru dalam hidupku. Penantian selama ini harus berakhir bahagia dan sempurna, aku cemas jika penantianku selama ini harus berujung pada kekecewaan. Di atas meja kerjaku tergeletak telepon genggam yang masih menunggu balasan darinya. Tak lama kemudian selang waktu 3 jam ponselku bergetar, menandakan ada pesan yang masuk, aku sumringah tak buang waktu aku sigap meraih ponselku untuk membaca pesannya, namun sial tertulis jelas pop-up pesan singkat bertuliskan

Butuh dana segar? Hubungi kami, proses cepat, bunga ringan, hanya dengan jaminan BPKB kendaraan bermotor anda

cemasku mulai bertumpuk, berakumulasi dengan rasa lapar yang sedari tadi aku tahan untuk aku obati dengan menatap wajahnya saat makan malam bersamanya nanti (karena, hanya dengan menatapnya sambil makan itu cukup untuk mengobati rasa laparku). Tak lama setelah dering pesan singkat dari kreditur, ponselku berdering kembali. Terlihat jelas pop-up warna hijau bertuliskan namanya dengan isi

has sent you an audio message

.
“Oh Tuhan, ini adalah momen yang aku ingin ulangi setiap kali aku terpuruk dan terasing dalam kehidupan fana ini!” Sesegera mungkin ku buka pesan itu, saat ku geser panel kunci di layar ponselku aku langsung menekan tombol play untuk memutar pesan suara yang ia kirim. Terdengar merdu suaranya, ia menjelaskan alamatnya dan permintaan maafnya karena ia sedang malas mengetik dan ingin segera mandi untuk bersiap dijemput. Sumringahku datang lagi, lalu aku cari alamatnya di internet. Setelah mempunyai gambaran letak alamatnya aku segera memanaskan mobil untuk pulang dari kantor dan pergi menjemputnya.

Di perjalanan semua perasaan bercampur, senangku banyak saat itulah aku semakin yakin aku ini orang bahagia dan kehidupan itu indah, namun tak bisa kuhindari rasa cemas pun ikut tercampur, cemas pertemuan malam itu gagal, rusak dan tak sesuai dengan apa yang aku bayangkan sebelumnya. Apa peduli orang lain mengenai perasaan cemasku, jadi aku juga berusaha tak peduli dengan kecemasanku itu, karena aku yakin bahwa apapun yang harus terjadi akan terjadi, dan yang harus tidak terjadi tidak akan terjadi, lakukanlah yang terbaik yang bisa dilakukan, hasil yang akan didapatkan sepadan dengan usaha yang dilakukan. Sampai di radius beberapa meter dari tepatnya alamat yang ia kirimkan, aku turun dari mobil, sambil menulis pesan kepadanya

aku udah di depan, ini mobilnya masukin?

, tak lama muncul balasan

ok, iya masukin nanti aku tunggu di sebelah kiri

, aku masuk ke jalan itu, dan tak jauh dari gapura tanda masuk jalan itu terlihat dia melambaikan tangannya, dia melambaikan tangan pada kamera. Ya karena aku melihat siaran tayangan uji nyali di televisi yang sedang ditonton oleh para tukang ojeg di pinggir jalan. Meneruskan kembali perjalanan sambil melihat dan mencari wanita yang sedang menunggu dijemput olehku, beberapa meter kemudian wanita berkaos putih itu melambai padaku, seakan memberi tanda bahwa dia cinta padaku (skip! Kalimat ini terlalu bersifat fiktif, imaginatif, dan syarat akan muatan angan-angan belaka, karena tidak ada fakta dari penelitian atau survey manapun yang menjelaskan bahwa jika seseorang melambaikan tangan berarti ia memberikan tanda cinta). Lalu aku berhenti di depannya, mempersilahkan dia masuk kedalam mobil lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sudah kita sepakati untuk dituju. Lalu menghabiskan malam dengan duduk, makan, dan mengobrol. Hingga akhirnya kuantarkan dia kembali, dan aku pulang kerumah untuk menyiapkan seluruh kegiatan yang akan aku lalui esok paginya secara sempurna.

Karena malam itu aku sangat bahagia dan keesokan harinya merupakan hari yang baru dan lebih mudah disyukuri. Sarapan keesokannya adalah sarapan ternikmat yang pernah aku rasakan, perjalanan keesokannya adalah perjalanan yang paling nyaman untuk ditempuh, dan senyum keesokannya adalah senyum yang paling ringan dan tulus aku bagikan kepada orang lain, begitu pula yang lainnya. Mungkin aku sedang rasakan efek dari jatuh cinta, efek baiknya aku serap dan manfaatkan sebaik mungkin. Walaupun aku berhenti untuk meneruskan cita-citaku itu. Namun aku sadar, bahwa aku harus tetap berusaha keras untuk mengejar apa yang aku inginkan, namun ada kondisi dimana aku terpaksa berhenti berusaha mengejar apa yang aku inginkan. Bukan karena aku berubah pikiran atau karena aku kehilangan semangat untuk itu, tapi lebih kepada pertimbangan persentase kemungkinan pencapaian, pertimbangan politis untuk kebaikan kedua belah pihak, dan juga faktor cermon yang ada di depanku setiap kali aku mendeklarasikan sesuatu untuk dikejar dan didapatkan. “Belum waktunya karena belum pantas”, maka mulai saat ini aku akan berusaha untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas, dan menggali potensi untuk memantaskan apapun yang sampai saat ini belum pantas.