instagram

Menjadi berguna, lalu mati

Jika melihat fakta bahwa tidak semua mahasiswa menjadi sarjana, bahwa tidak semua benih yang ditanam akan menjadi pohon, bahwa tidak semua karyawan menjadi bos, bahwa tidak semua pula ibu mengandung akan melahirkan bayi, dan bahwa tidak semua manusia yang terlahir sempurna. Karena nasib yang mengusahakan dan takdir yang menentukan proses dan hasil seluruh aktivitas elemen kehidupan di dunia ini.

Anggapanku, tak ada batasan “cukup” untuk menghentikan kebutuhan dan keinginan seseorang manusia, ya selama ia masih hidup untuk melakukan berbagai tugasnya ataupun hanya bersia-sia melewati perjalan kehidupan ini. Kebutuhan dan keinginan akan selalu menyertainya. Sama pula dengan berbuat kebaikan tak akan ada satu variabel apapun untuk menilai “masih kurang” atau “sudah cukup” kah seseorang untuk melakukan kebaikan. Anggapku lagi, melakukan kebaikan adalah nasib yang akan menuntun takdir menulis kebaikan. Hingga saatnya tiba berhenti melakukan kebaikan adalah saat jangka waktu seseorang habis, saat mata ditutup, mulut dibungkam, dan raga tak lagi bisa melakukan apa-apa, disitulah tugas melakukan kebaikan berakhir.

Mengelola ekspektasi yang merupakan bentuk implisit dari harapan yang semu adalah sebuah keharusan, karena pada akhirnya takdir pula yang menentukan.

Hidup saya tidak sebahagia mereka. Eh, engga. Hidup ku juga sudah bahagia, tapi kurang sebahagia orang yang lebih bahagia daripada saya. Konsenlah pada orang yang belum bahagia sebahagia saya, nah disitulah bahagia yang kurang akan berbalik menjadi lebih.

Aku masih harus terus berusaha keras untuk mencukupkan segala keinginan, masih terus harus berusaha keras untuk menjadi kebanggaan kedua orang tua, menyebarkan kebahagiaan, melakukan sebaik-baiknya, menjadi berguna, lalu mati.

Jika aku mati besok maafkan aku untuk segala kesalahan, dan maafkanlah aku untuk segala kebaikan yang belum aku lakukan.