instagram

Aku diam, rembulan sialan

Kau datang lagi, kau bawa rembulan itu lagi, membasuh dahaga yang hanya dapat terobati oleh air sejuk yang selalu kau bawa dalam bejana kesederhanaan.

Tak lama kau singgah, tanpa pamit, kau berlalu (lagi), satu rengginang dari kaleng khong-guanku pun tak kau habiskan.

Dalam belenggu ini aku diam, aku tak pernah bicara, tak akan pernah kuceritakan padamu. Ada kisah lampau yang kau tak mesti tahu. Namun sekarang menjadi rantai berkarat yang mengikatku erat padamu. Aku ingin kau disini, di depanku melindungiku, menuntunku, menjagaku, dan menjadi imam untukku dan anak-anak kita kelak. Jangan kau pergi (lagi).

Bagaimana kau ini?! Atau bagaimana aku ini? Ku hanya bertanya dalam kebisuan yang hening ini. Akankah kau kembali bersama rembulan itu? Rembulan usang yang selalu menggantung di senyumanmu, rembulan yang enggan disandingkan bersama bintang yang berkilau terang.

Aku masih menganggapmu bumerang yang akan kembali setelah kulempar jauh, namun … Ah sudahlah, aku masih memiliki banyak banyak banyak yang lebih sempurna daripada rembulan rongsokanmu itu. Disitu ada matahari bersama coklat yang mencair di sisinya, disana tersedia bintang bersama bir segar menggairahkan yang siap kusantap, ada pula astronaut bersama secangkir espresso hangat di tangan kirinya melambai padaku.

Enyah kau tak berguna lagi, cemasku tak akan ada lagi, kutarik pula jatah rinduku yang dulu selalu aku hidangkan penuh untukmu, aku tak peduli lagi padamu rembulan sialan, pekat bersamaku (lagi), aku pegang caraku, aku akan muda sesungguhnya, karena tuaku tak perlu rencana.